Begini Model Pengelolaan Dana Wakaf pada Asuransi Syariah

0
3
model pengelolaan dana wakaf

Wakaf memang tidak melulu soal harta benda seperti tanah dan bangunan. Menurut fatwa MUI dan Undang-Undang nomor 41 tahun 2004, wakaf dalam bentuk uang juga diperbolehkan. Ada banyak instrumen syariah yang bisa digunakan untuk sarana investasi wakaf uang, salah satunya adalah asuransi syariah.

Hal ini mengacu pada Peraturan Pemerintah pasal 46 Nomor 46 Tahun 2006 yang menjelaskan bahwa pengembangan atas wakaf uang hanya dpat dilakukan dengan investasi pada produk-produk yang ada pada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) atau instrumen keuangan syariah.

Wakaf pada salah satu instrumen keuangan syariah ini punya potensi besar berkembang di Indonesia. Selain itu, wakaf juga penting dalam instrumen keuangan syariah serta punya konstribusi besar dalam pembangunan yang  berkelanjutan. Hanya saja, pemahaman mengenai hal ini belum merata pada semua masyarakat. Banyak yang masih memahami bahwa wakaf hanya berupa tanah dan bangunan saja, padahal ada beragam jenisnya.

Ditinjau dari pengertiannya, wakaf adalah salah satu bentuk kedermawanan seseorang yang diajarkan dalam agama Islam yang memberikan manfaat yang terus berlanjut bagi masyarakat luas serta baginya pahala yang tidak terputus. Dari sini terliat bahwa karakteristik utama dari wakaf yaitu sifatnya sukarela dan nilainya abadi.

model pengelolaan dana wakaf

Salah satu instrumen keuangan syariah yang digemari adalah wakaf melalui asuransi yang berbasis syariah. Sebab dengan wakaf asuransi ini, nasabah akan mendapatkan dua manfaat, yaitu asuransinya sendiri dan hasil investasi yang berupa asuransi jiwa.

Dalam manajemen keuangan wakaf ini, perusahaan asuransi yang berbasis syariah punya peran yang strategis yaitu sebagai penerima, pengelola dana wakaf serta menjadi penyalur hasil investasi dari dana wakaf tersebut. Peran penuh sebagai nazhir ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh perusahaan asuransi. Sebab dana wakaf yang masuk nilainya tidak boleh berkurang, tidak boleh digunakan untuk biaya operasional, biaya klaim, dan biaya-biaya lainnya. Sebab wakaf sifatnya abadi sehingga menjadi aset tetap. Itulah mengapa harta yang diwakafkan harus bersifat produktif dan mampu memberikan manfaat.

Adapun asuransi syariah dengan basis wakaf ini cara pengelolaannya secara umum terbagi dua, yaitu pengelolaan model tabungan (saving) dan yang bukan tabungan (non saving).

Pada pengelolaan model saving, dana wakaf dimasukkan pada dua jenis rekening yang berbeda, yaitu rekening tabungan dan tabarru’. Dana pada rekening tabungan sifatnya tidak boleh dikembalikan pada peserta karena sudah diwakafkan, Demikian juga dengan hasil investasinya, harus disalurkan pada yang berhak sesuai dengan keinginan peserta. Sedangkan dana pada rekening tabarru’ juga harus dikelola dan diinvestasikan, baru kemudian hasil dari investasinya digunakan untuk dana klaim yang menolong sesama peserta asuransi. Dari awal, peserta wakaf menunjuk para peserta asuransi menjadi mauquf alaih (yang berhak menerima wakaf).

Dana wakaf yang ada di rekening tabungan dan tabarru’ nilainya harus tetap utuh. Sedangkan dana operasional nazhir hanya boleh diambil dari hasil investasi, baik dari rekening tabungan maupun tabarru’ dengan masimal 10 persen. Sedangkan dana klaim hanya boleh diambil dari hasil investasi tabarru’ saja.

Pada pengelolaan dana wakaf pada asuransi syariah model non saving, tidak ada unsur tabungan. Dana yang dikelola dikumpulkan dalam satu rekening tabarru’ saja. Konsepnya sama dengan rekeninng tabarru’ pada model saving, di mana dana tidak boleh langsung digunakan tetapi harus diinvestasikan terlebih dahulu pada proyek-proyek produktif yang haruslah sesuai dengan syariah. Hasil investasinya baru bisa digunakan dengan pembagian 10 persen untuk nazhir (pengelola keuangan) dan sisanya untuk dana tolong menolong antarsesama oeserta asuransi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here